Showing posts with label catatan Kaki. Show all posts
Showing posts with label catatan Kaki. Show all posts

Thursday, August 15, 2013

rasakan

karna ia adalah rasa, rasakanlah
rasakanlah ketika dia menyebar di seluruh molekul tubuhmu
menyebar dengan cepat seperti jamur ketika hujan melebat
tak usah kau pikir spora jamurmu akan jatuh dan tumbuh di tempat yang kau mau
cukup rasakan, biarkan mereka menyebar luas
menginfeksi semua tanah yang mereka jamah
dan tumbuh
kemudian tidur saat kemarau datang
dan tumbuhlah lagi ketika hujan datang

jangan pikir, ia akan tumbuh seiring denganmu
jangan kira ia bisa selalu di sisimu
rasakan saja
rasakan tiap angin yang membawa sporamu
rasakan hembusannya yang mungkin akan jatuh di tanah ia berpijak

karna ia adalah rasa, jadi rasakanlah

Tuesday, July 30, 2013

malam itu

Potret masa lalu melayang, mengambang acak di benakku
tak jelas runtutan tanggal, hari, jam, dan menit yang tlah berlalu
yang aku ingat, kita berpisah di malam itu
kereta yang membawaku pulang dan kamu yang tertegun di depan pintu

kulambaikan tangan, kugambar senyuman
dan perlahan pintu menutup dan membatasi kita
aku tak segera duduk di tempat seharusnya
aku masih tertegun di depan pintu kereta yang menghalangi pertemuan mata kita

kini kau makin jauh di belakang sana
meninggalkan kenangan yang gaduh di penjuru rasa
aku membatu, tak sempat kuberitahu rasa yang hampir membuncah di ubun kepala
kini yang terdengar hanya bising laju kereta
dan suaramu yang samar menggema di seluruh kepala
menyisakan sesak yang bernyawa

Tuesday, June 25, 2013

Stay Up Late at Night and Wake Up Early

Saya suka tidur larut malam, saya suka malam
walau kadang malam hanya saya habiskan dengan berdiam
mengingat kembali kegiatan- kegiatan yang saya lakukan di saat terang
Terang? iya.. siang..
Terang...Gelap...
Buat saya sama saja... sama sama kosong jika hanya dihabiskan untuk hal tidak berguna
Tapi saya lebih suka saat gelap, saat malam..
Terlebih saat larut, saat semua orang terlelap, saat semua orang terantuk di pintu mimpi

Saya tahu, begadang bukan kebiasaan yang baik.
Tapi saya juga tahu...hidup terlalu singkat untuk kita habiskan dengan tidur 8 jam sehari
Saya suka malam, saya suka keheningan
Saya suka ketiadaan riuh, ramai dan sesak
Malam itu damai..sunyi

Setelah menginjak usia ke 20, saya semakin jarang tidur 8 jam sehari
5 jam adalah waktu yang cukup untuk terlelap dalam ketidaksadaran.
Kemudian bangun lebih pagi...
Waktu terasa lebih berarti saat saya bangun pagi, berlalu dengan normal
tidak terasa berlalu dengan cepat maupun lambat

Saya suka malam, kopi, dan kamu..
Saya suka melalui malam dengan secangkir kopi sambil memikirkan kamu (hahaha)

Kamu suka yang mana?

Tuesday, June 18, 2013

JIWA dan RAGA

Luka, pedih, kecewa dan amarah, bukanlah hal baru bagiku. Mereka adalah satu, terkumpul dan menembus jiwaku. Menembus jiwa yang tak lagi utuh. Menembus jiwa yang bersemayam dalam raga yang tak waras. Membuat luka yang menganga, berdarah- darah dan tak membuat pemilik raga berhenti menangis. Tak ada usapan lembut untuk mngobati luka, tak ada senyuman penyejuk untuk jiwa ini, yang ada hanya seringai kejam sang serigala yang terbungkus dalam raga yang kusebut keluarga. Jiwa ini menangis meronta- ronta, namun raga bertahan, berdiri setegak mungkin,
“raga, aku sudah lelah. Biarkan aku berhenti. Biarkan aku pergi!” pinta jiwa
Raga itu hanya terdiam di sudut ruang suram dan sepi. “akupun tlah lelah jiwa, tapi aku tak bisa berhenti disini. Aku tak mau kau pergi meninggalkanku dengan keadaan seperti ini. Jiwa, kumohon bertahanlah, demi aku” pinta raga
Hari berlalu, kerikil tajam berhamburan di jalan setapak yang kulalui. Tuhanku yang Agung, berikan sedikit kesejukan bagi jiwamu yang gersang ini. Berikan kekuatan untuk raga yang rapuh ini.
Tuhanku Yang Agung. Kami sungguh tersiksa disini, mereka itu tuli, mereka itu buta, tak da yang dapat mendengar  raunganku, rintihanku, bahkan menangis di depan merekapun tak ada yang mau melihat.
Kami lelah Tuhan… bolehkan kami terpisah dan melanjutkan kehidupan kami masing-masing.  Bolehkah kami terpisah? Biarkan jiwa dan ragaku terpisah sekarang juga. Kumohon…
Seiring waktu berlalu, seiring luka, kekecewaan, amarah, sakit, pedih yang datang menghampiriku, sedikit demi sedikit aku mampu untuk menghadapi itu. Ragaku menguat, jiwaku semakin tangguh.
Kini luka adalah kawanku, kawan yang mengajarkan diri tuk selalu memberi kasih pada sesama
Kini kekecewaan adalah kawanku, kawan yang mengajarkan aku bahwa segala hal tidak dapat terjadi sesuai kehendak kita.
Kini amarah adalah pengingatku, bahwa ia akan merusakku bila aku mangikutinya.
Kini sakit dan pedih adalah satu, satu hal yang membuatku ingat bahwa selalu ada kebahagiaan dan kedamaian di balik duri tajam mereka.
Dan kini jiwa dan ragaku, mereka bersatu
Mereka saling menguatkan, mengingatkan, dan menyadarkan bahwa jiwa yang gersang ini adalah jiwa yang tak pernah bisa jauh dari Sang Pemilik jiwa, dan bahwa raga yang rapuh ini adalah raga yang kerdil dan tak berdaya dihadapan ciptaan-Nya yang Agung dan dahsyat.

Monday, May 27, 2013

Secangkir Kopi

Kita berbincang santai sore tadi, duduk asik di teras rumahku sambil nyeruput kopi buatan bapakku. Bicara soal hari itu, apa saja yang kau temui di jalan menuju rumahku, bicara tentang kucing, anjing, bicara tentang orang sekitar yang seperti kucing lapar yang mendadak manja dan manis, gelendotan di kaki sang pemilik.
Begitu banyak hal yang telah kita bicarakan, tapi tak sedikitpun kamu menyinggung soal hati. Kamu antusias dengan masa depanmu, bicara tentang karir yang akan kamu geluti, lingkungan baru yang akan kamu temui nanti, kepadatan kuliahmu. Tak sedikitpun kamu menyinggung urusan hati...
Hey... aku menunggu disini..
Entah berapa cangkir kopi yang telah kita habiskan, entah berapa sore yang kita lewatkan.

Aku hanya secangkir kopi buatmu,
Memaksamu terjaga saat kantukmu datang
Memaksamu tetap bekerja di tengah malam

Aku hanya secangkir kopi buatmu,
yang kamu minum dan jika habis tinggal kamu buat lagi dicangkirmu

Aku cuma secangkir kopi, yang kamu cari sesukamu dan saat kantukmu datang



tulisan ini terinspirasi dari secangkir kopi dingin buatan bapak yang saya minum agar tetap terjaga dan bisa menyelesaikan tugas kuliah




Sunday, May 12, 2013

begini... begitu... seharusnya seperti ini, tidak seharusnya seperti itu...
Pernahkan kamu merasa jenuh pada suatu hal sampai kamu tak mampu lagi merasakan kejanuhan itu sendiri? Sampai seakan- akan rasamu mati?
Sampai seakan- akan kamu tidak mampu merasa lagi.. dan hanya mampu berpikir.
Hanya tubuhmu yang bergerak, otakmu yang terus berputar, tapi hati sama sekali.
Rasanya seperti membeku.. rasanya seperti duduk di keramaian, semua orang bergerak, segala hal berubah, kecuali dirimu sendiri. Hanya diam dan melihat, membiarkan orang datang dan pergi, pergi dan kembali.

Tapi mereka tidak kembali untukmu..

Sunday, April 7, 2013

Diri.

Pagi itu, wajahnya enggan menyambut hari. berjalan gontai menjauh dari tempat ia bermimpi. berusaha menguatkan diri, menyemangati hati yang telah lama meronta setiap hari.
Dimulailah hidup hari itu, melakukan aktivitas seperti biasanya. Bertemu orang- orang seperti biasanya, dan mendengar cerita- cerita seperti biasanya. Selalu seperti biasanya.
Dia sudah berlatih tersenyum pagi tadi, di depan cermin yang terpasang di lemari, seceria mungkin dan sehidup mungkin.
Dan ketika senja tiba, dia kembali. Kembali pada dirinya sendiri. Pada cermin yang ia tatap setiap pagi. Lalu ia menatap dirinya lebih teliti.
Dia tersenyum...matanya menerawang dan kemudian terpejam..

Di depan cermin ia menatap diri... melihat dan meneliti setiap mili dirinya sendiri..
Iya... sendiri.

Sunday, January 27, 2013

Masih 19



aku masih 19 tahun, masih segar dan hijau kalo orang bilang.. dan mungkin kataku, lalu aku berpikir lagi.. dari mana mereka mampu mengambil kesimpulan bahwa usia 19 hampir 20 tahun seorang gadis masih dikatakan 'hijau'?

'belum banyak kepahitan hidup yang kau alami' suara yang tiba- tiba menyaut dari sudut
pahit? seruku menyambut suara itu
'kau ini masih, segar, masih hijau, penuh semangat, gairah, mimpi dan cita waktumu masih panjang. kesempatanmu masih terbentang untuk mencicipi pahit manis dunia' katanya yang masih di sudut
benar, kataku
'jika itu benar, lantas kenapa kau masih disini? bukankah yang kau cari tak mungkin kau temukan disini?'
yang aku cari memang bukan disini, tapi ini belum saatnya aku pergi.
'lalu kau menunggu apa? menunggu hingga kehabisan waktu, lalu menua tanpa mencapai apapun?'
itu yang aku takutkan... jawabku lirih

aku takut diam dan menua..

tanpa menemukan apapun karena aku tak mencarinya...
aku takut sekali...

dan suara di sudut itupun terkekeh menggema di seluruh ruang gelap lalu menghilang.
dan aku terbangun.